Pembalut masih belum terjangkau?

Pembalut merupakan salah satu tantangan baru untuk perempuan? Menurut sumber dari detik health di perkirakan terdapat 118 juta perempuan di seluruh Indonesia, 67 juta diantaranya masih usia subur. Kebutuhan pembalut dan pantyliner yang aman masih sangat dibutuhkan, tiap bulan ada 1,4 miliar pembalut yang digunakan oleh seluruh perempuan di Indonesia.

Ya, setiap perempuan pasti mengalami siklus menstruasi. Namun hanya sedikit orang yang tahu tentang permasalahan yang dapat ditimbulkan dari menstruasi itu sendiri. Sebagian orang juga mungkin bertanya-tanya tentang masalah apa sih yang sebenarnya dapat ditimbulkan dari menstruasi selain dari perubahan mood seorang perempuan?

Ada sebuah pertanyaan singkat yang harus kamu jawab sebelum kita membahas lebih dalam akan permasalahan menstruasi. Coba jawab, kapan terakhir kalian pergi ke sebuah toilet umum di sebuah pusat perbelanjaan, bioskop atau kampus? Berapa banyak tisu yang kalian temukan dan gunakan di toilet?

Sudahkah kalian menjawab pertanyaan di atas? Ya, jawaban dari pertanyaan diatas adalah kita mendapatkan tisu secara mudah, bahkan gratis. Sebagian besar dari tisu yang kita gunakan tersebut, tidak akan menimbulkan permasalahan bahkan bila kita memakai satu rol tisu sampai habis.

Dapat dilihat dari kebiasaan menyediakan tisu secara gratis di banyak tempat umum saat ini, secara tidak langsung menunjukkan bahwa untuk keperluan kebersihan sebenarnya kita sebagai makhluk sosial sudah menyadari dan memutuskan untuk mendukung banyak orang untuk membersihkan diri kita semua agar dapat terhindar dari penyakit. Lalu kenapa kebijakan tersebut tidak diterapkan untuk pembalut? Fakta penelitian sebuah riset penelitian di Sumba memperlihatkan bahwa siswa perempuan dapat menghabiskan sekitar Rp 13.000-, untuk pembalut atau sebesar Rp 313.000-, dalam dua tahun

Coba kalian bayangkan, bagaimana perasaan kalian bila tidak ada tisu serta air di toilet saat selesai buang air kecil atau besar? Bagaimana bila kalian tidak menemukan sebuah kain atau tisu saat tangan kalian mengeluarkan banyak darah?

Sekarang coba kalian bayangkan bila seorang perempuan harus pergi ke toko yang berjarak sekitar 500 meter dalam keadaan mengeluarkan darah menstruasi hanya untuk mencari pembalut, karena pembalut tidak tersedia di toilet kantor, sekolah, maupun kampus sampai detik ini (baik yang berbayar maupun gratis).

Mari kita kerucutkan permasalahan pembalut ini ke beberapa kelompok masyarakat, coba bayangkan apa yang harus dilakukan oleh seorang perempuan tunawisma saat sedang mengalami menstruasi? Apa yang harus dilakukan oleh siswa perempuan di daerah terpencil di luar pulau Jawa saat sedang menstruasi? Dimana bisa saja jarak sekolah dengan toko yang menjual pembalut berjarak berkilo-kilo meter.

Fasilitas air bersih, sanitasi dan kebersihan yang tidak memadai juga menghadirkan tantangan bagi para siswa perempuan saat menstruasi. Banyak anak perempuan yang pulang ke rumah karena harus mengganti pembalut atau celana karena tembus (kebocoran darah yang terjadi saat menstruasi). Tidak jarang juga ditemukan banyak siswa yang terpaksa memakai pembalut yang sama selama 8 jam, tidak peduli bila hal tersebut dapat menimbulkan iritasi dan gatal pada alat kelamin. Semua hal tersebut terjadi karena masih sulitnya akses terhadap pembalut.

Secara global sekitar 88% perempuan di seluruh dunia tidak memiliki akses terhadap pembalut untuk mengatasi masalah menstruasi mereka. Ada baiknya apabila pemerintah mulai peduli dengan permasalah dari akses pembalut ini dengan mulai memasukkan produk pembalut ke dalam daftar produk medis yang di kecualikan dari penjualan dan pajak mewah. Selain sulitnya akses pembalut, banyak orang juga kesulitan dalam membeli pembalut karena harganya yang masih cukup tinggi untuk beberapa kalangan.

Akan lebih baik bila toilet-toilet umum atau mungkin kantor-kantor besar mulai menyediakan pembalut di toilet mereka. Akan lebih humanis bila sebuah perusahaan menyediakan pembalut gratis sebagai ganti dari adanya meja ping-pong atau bean bag besar dengan harga selangit, maupun furniture yang didatangkan langsung dari Italia. Hal ini juga bisa diikuti oleh mal-mal besar yang tersebar di banyak kota, untuk memulai menyediakan pembalut di bandingkan memasang untaian dekorasi di sepanjang dinding toko. Untuk di sekolah-sekolah sendiri, ada baiknya bila pemerintah bisa memberikan akses pembalut gratis seperti di Kenya, untuk memudahkan para siswa perempuan bila sedang menstruasi di sekolah.


Photo/Illustration: Kumparan.com

Ratnakanya Hadyani | Associate Tulodo

Published: 11 August 2017 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s